Kmrn sore waktu gw mau pulang kantor, seperti biasa gw memulai ritual dengan memanaskan si cepot, berhubung sdh seharian terpajang, terpanggang dan kehujanan di lapangan parkir. Btw, cepot adlh panggilan untuk mobil kesayangan gw… hihi.. (jgn protes!!)
Sore itu udara memang agak dingin, krn hujan baru saja berhenti. Udara yang betul2 cocok bagi para peggemar bakso utk menikmati jajanan yang satu itu. Begitu juga teman2 kantor gw yang berencana untuk lembur. Mereka memanggil tukang bakso langganan yang ternyata siap sedia datang kapan saja bila di telp… (hebat!!!)
Jadilah di sore itu gw memanaskan si cepot sambil ditemani tukang bakso yang setia menanti mangkok2 bakso yang masih menjadi wadah santapan teman2 gw. Gw pun duduk di dlm mbl dengan pak tukang bakso berdiri di samping.
“Sblm pulang makan bakso dulu, neng…”, sapanya ramah.
“Oh, ngga pak, saya masih kenyang…”. Itu bukan jawaban basa-basi, krn memang gw masih kenyang. Imbasan makan siang yang membabi buta krn kelaparan..
Dimulai dari pertanyaan dan jawaban itu, gw dan pak tukang bakso pun mulai ngobrol panjang lebar. Gw sempat bertanya, apa yg terjadi dengan gerobak baksonya, krn sekarang gerobak itu sudah diganti dengan sepeda motor. “Lebih enak, neng. Bpk ga cape dorong gerobaknya”, jawabnya. Pastinya sih… Karena ternyata rumah si bapak jauh dari daerah ‘jajahan’nya. Kalau pakai sepeda motor pasti akan jauh lebih ringan beban fisiknya, meskipun hrs diganti dengan pengeluaran uang ekstra untuk membeli bensin. Gw membaca tulisan pada box baksonya, ‘Bakso SMS’ (entah apa artinya, mungkin dgn sms pun, si bapak bisa menjual baksonya…???…).
Banyak cerita yang gw dpt dari bapak tukang bakso itu. Dimulai dari cara membuat bakso, bahan2 yang dipakai utk membuatnya, rute penjualan bakso, jam jualan yg dimulai dari jam 5 sore dan pulang kembali ke rmh ketika hampir tengah malam, cerita ttg istrinya yang berdagang sayur, anak sulungnya yang sudah kelas 1 SMK dan kemungkinan akan mendapatkan beasiswa krn ranking 1, anak bungsunya yang masih duduk di kelas 5 SD, kenaikan harga bakso krn pengaruh inflasi, perkembangan dari gerobak bakso sampai menjadi sepeda motor bakso, dll.. dll..
Dari semua ceritanya itu, gw cuma bisa berdecak kagum. Kagum akan kemauan dan keikhlasan yang dijalani oleh si bapak. Dia menjalani hari2nya dengan usaha maksimalnya sbg pedagang bakso. Meskipun sesekali ada keinginan yang tersirat utk bekerja menjadi pegawai kantoran. Tapi beliau mengerti akan kondisi dirinya yang menurutnya ‘tidak pantas’ utk menjadi pegawai karena tingkat pendidikannya yang hanya mencapai batas SMP. “Saya cuma lulusan SMP, neng. SMP nya jg di kampung..” Maka berjualan bakso yg sudah dimulainya sejak 22 tahun yg lalu terus dilakoninya sampai sekarang. Dengan satu tujuan, memberikan penghidupan yg lebih baik utk anak2nya.
Semakin banyak bapak tukang bakso bercerita, semakin byk pula kekaguman gw. Gw betul2 salut… 22 tahun!!! Wawww… itu bukan waktu yg sebentar. Itu dedikasi yang amat sangat patut diacungi jempol!!
Ngga terasa sdh ¼ jam kita ngobrol, dan sepertinya si cepot sebentar lagi bakalan meledak krn kepanasan. Jd gw pun pamit sama si bapak. Dan dengan ramahnya beliau berkata,”Hati2 di jalan, neng”.
Dalam perjalanan pulang ke rmh, gw msh terus ingat ttg obrolan singkat tadi. Seorang penjual bakso yang merasa dirinya ‘tidak pantas’ untuk menjadi pegawai kantoran, bisa memberikan satu pemahaman yang ‘lebih’ akan hidup. Andai semua org punya kemauan dan keikhlasan seperti itu…
Kalau saja kita mau membuka mata, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita dapat dari apa yang ada di sekitar kita. Dan gw bersyukur pada sore itu Allah mau memberikan satu lagi pelajaran ttg hidup, dan membukakan mata gw untuk mensyukuri apa yang sudah gw peroleh selama ini… Subhanallah..

*****
Itu tkg bakso langganan kita dulu itu ya cil? Hiks..nmr hpnya masih ke simpen di hp gw dgn nama abang bakso,feeling bad sampe gw balik jogja namanya aja gw ga tau.cp d..salam ya..