Ada seorang anak yang seringkali melakukan perbuatan tidak terpuji. Melawan orang tua, berbohong, berlaku kasar terhadap orang lain. Sudah bertahun-tahun orangtuanya menasehati untuk merubah perilakunya, tapi si anak tetap saja melakukan kebiasaan jeleknya dengan menyakiti perasaan orang lain. Dan orang tuanya pun seperti kehabisan akal untuk merubah kebiasaan buruk anaknya itu.
Tapi ayahnya tidak menyerah begitu saja. Suatu hari sang ayah mendirikan pagar kayu disisi halaman belakang rumahnya. Begitu pagar kayu sudah berdiri, si anak pun dipanggil.
“Untuk apa pagar kayu ini, ayah?”
Bapak yang sudah berumur itu pun menjawab,”Anakku, pagar ini ayah dirikan untukmu”.
“Untuk aku? Buat apa?” si anak tambah bingung.
“Setiap kali kamu berbuat kesalahan, atau berbuat sesuatu yang menyakiti orang lain, ayah akan menancapkan paku pada dinding ini…” jawab ayahnya pelan.
“Ah, terserah ayah saja lah!” si anak pun melengos pergi.
Dan ayah pun menepati janjinya. Setiap kali ia mendengar anaknya melakukan perbuatan yang tidak baik, ia akan menancapkan paku pada pagar itu. Dan lama-kelamaan pagar itu pun penuh dengan paku, karena kebiasaan si anak tidak juga berubah. Tapi anaknya seakan tidak peduli dan tidak mau sekalipun melihat ‘perkembangan’ dari pagar yang sudah dipenuhi paku itu.
Suatu hari si anak, tanpa sengaja, melihat pagar kayu di halaman belakang rumahnya. Tidak seperti biasanya, ia terus memperhatikan pagar itu. Ia melihat banyaknya paku yang sudah tertancap disana. “Sebanyak itukan aku telah menyakiti orang? Sebanyak itukah aku telah berbohong?” Ia seperti tersadarkan, dan dia pun mulai menangis. Ia lalu bersujud di depan orangtuanya dan meminta maaf atas segala kelakuannya selama ini, yang langsung disambut dengan rasa haru oleh orang tuanya.
“Maafkan aku, ayah, ibu.. Aku telah banyak menyakiti ayah dan ibu. Aku telah banyak melakukan kesalahan terhadap orang lain. Lihat betapa banyaknya paku yang ada disana. Pasti banyak sekali orang yang membenciku. Aku mau berubah..Aku mau memperbaiki kesalahanku.”, tangis si anak.
“Alhamdulillah, akhirnya pagar dan paku itu bisa manyadarkanmu, nak..”, jawab sang ayah yang juga menangis haru. “Mulai hari ini, mintalah maaf pada orang yang telah kau sakiti dan yang telah kau bohongi. Setiap kali kamu meminta maaf, ayah akan mencabut satu paku yang menempel pada pagar itu”.
Maka dimulai dari hari itu, si anak merubah perilakunya dengan terus berbuat baik dan meminta maaf pada orang-orang yang kerap ia sakiti dan bohongi.
Dan ayah pun menepati janjinya. Setiap kali ada permintaan maaf yang keluar dari mulut anaknyanya dengan diikuti janji bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, satu paku dicabut dari pagar kayu.
Dengan usaha si anak untuk berubah, akhirnya pagar kayu itupun sedikit demi sedikit terbebas dari paku yang menancap. Dan akhirnya pagar itu bersih sama sekali dari paku.
Tapi si anak justru bersedih.
“Kenapa nak? Kenapa kamu bersedih? Lihat, pagar itu sudah bebas dari paku. Kamu telah berusaha, dan kamu telah berhasil membuang semua paku”.
“Iya ayah, tapi kenapa orang-orang masih meragukan aku? Bahkan ada yang masih menaruh curiga kepadaku. Padahal aku sudah meminta maaf kepada mereka dan mereka juga sudah memafkanku”.
Ayah pun mengajak anaknya ke halaman belakang dan menatap pagar kayu itu.
“Anakku, pagar ini memang telah bersih dari paku. Pagar ini kau bersihkan dengan cara meminta maaf dan dimaafkan oleh orang yang telah kau sakiti dan kau bohongi. Tapi, kau lihat? Sekalipun kau sudah mencabut kayu dari pagar kayu ini, lubang bekas paku akan terus menganga. Itulah yang dirasakan oleh mereka yang meskipun telah memberikan maaf padamu, tapi tetap meragukan dan mencurigaimu. Meskipun kau telah meminta maaf, luka hati yang kau torehkan di hati mereka masih membekas. Perlu waktu dan usaha untuk menutup lubang itu..”.
Untuk kedua kalinya si anak pun tersadar. Bahwa kata maaf saja tidaklah cukup. Ia masih harus menutup luka hati yang telah ia goreskan pada banyak orang. Tidak cukup hanya dengan mancabut paku dari pagar kayu, tapi ia harus juga menutup lubang menganga yang diakibatkan oleh paku tersebut.
Kesalahan memang tidak bisa ditebus hanya dengan meminta maaf saja…
———————————————————